Friday, February 26, 1993

Selingan

Hari hari kekalahan berlalu sudah
Kini saatnya untuk mulai berjalan
Dengan kepala yang lebih tegak
Tak selamanya memang manusia itu kalah
Tapi berhati hatilah Pock,
Tak selamanya pula manusia itu menang
Yang benar adalah ikuti saja alurnya
Jangan isi dengan rasa,karena itu menipu
Berjalanlah saja dengan naluri yang murni

Wednesday, February 3, 1993

Aku berhasil

Tanganku menekap dalam lipatan sembah
Membentuk satu piramida doa
Mataku nanap, mengundang hadirMu
Yang tiba tiba saja, meresap begitu saja
Lewat sayapnya ujung ujung kulit sukmaku
Aku bicara tanpa kalimat
Kau dengar tanpa telinga
Kucoba untuuk berdamai dengan kasunyatanMu
Allahku
Dan sayup sayup aku melihatMu
Yang tak pernah aku dapatkan dari omelan2 mereka
Tak soal, ini menipu atau tidak
Karena ini hasilku, kuperoleh dari jalanku
Setidaknya, aku punya gambarMu sendiri
Yang mendamaikan nyalangku
Biar saja mereka dengan benar mereka,
Aku punya kebenaranku sendiri

Friday, January 29, 1993

Mereka pergi dengan angkuh

Akibat awal dari proses kesadaran
Bahwa kita tak mampu dan tak berdaya
Adalah timbulnya perasaan rendah hati
Merasa diremehkan dan terhina
Pasrah, tak mampu berbuat apa apa
Mungkin menangis dalam kekalahannya
Tapi,saudaraku, tahukah kau?
Bahwa jika mereka sudah terlalu terpojokkan
Oleh ketidakmampuan dan keterbatasannya
Yang terjadi adalah pembalikan sikan
Tak aka nada apa apa
Selain dendam, sakit hati dan harga diri yang tertantang
Untuk memilih hidupnya sendiri,
Akupun demikian, saudaraku..

Wednesday, January 20, 1993

Aku adalah sang Mustafa

Adalah subuh bagi hari hariku
Telah kutunggu tujuh hitungan lamanya untuk kapalku
Yang berjanji akan membawaku
Kembali kekandang lahirku
Dan ketika kata tak lagi mampu mewakili jiwa
Ketika ungkapan tak lagi punya arti,
Layaknya suara yang tak dapat membawa lidah
dan bibir yang telah memberinya sayap
saat itulah, saat itu kapalku berlabuh
kapal pembebasan, dari tanah asal kelahiran
yang diawaki sendiri oleh anak anak ibuku
ditanah yang terasing
(oo..betapa seringnya kau berlayar dimimpi mimpiku,
Malam malamku telah bersaksi)
Dan sekarang dia berlabuh
Disaat terjaga aku di kenyataan,
Yang adalah mimpiku yang terdalam
Saat itulah,
Dengan kesendirian juga dengan kebebasanku akan kesendirian
Aku akan menjadi elang yang terbang
Melintasi matahari
Gerbang gerbang hati terbuka
Mengalirkan kebahagiaan
Jauh melintasi laut
(kututup mata seraya berdoa
Dalam heningnya jiwa yang menangis)
Namun bagaimana mungkin kutinggalkan
Tanah pengembaraan ini dengan membawa rela yang penuh,
Dengan tidak membawa batas batas dan kesakitan?
Terlalu panjang, sakitnya hari hari, malam yang sendiri
Yang sudah aku habiskan seluruhnya di tanah ini
Terlalu banyak
Pecahan pecahan jiwa terpotong dan aku cecerkan
Dijalanan ini
Terlalu banyak, anak anak hariku yang berjalan telanjang
Berlari larian dari atas perbukitan tanah ini
Kesaksian jam demi jam yang terbakar pada malam yang sunyi,
Sudah membeku dan mengkristal dalam adonan jiwa
Ini bukanlah tentang
Pakaian yang kukenakan hari ini
Melainkan kulitku yang sebenarnya
Adalah airmata yang menetes dari sela sela tanganku

Tuesday, January 19, 1993

Kangen

Rinduku rindu suci
Diam yang sendu
Mengalir tak berbentuk
Rinduku rindu indah
Justru karena tidak diperdagangkan
Rinduku
Rindu yang diam

Tuesday, January 12, 1993

Selamat jalan sahabat

Seorang sahabat, satu lagi, pergi sudah
Dia berangkat untuk mencoba mengais lagi
Sisa sisa serpihan hidupnya
Yang mungkin tercecer dari kekalahannya
(tenang, tenanglah sahabat, tenanglah seperti batu batu tebing itu, ya..)
Jagalah omelanmu agar lidah tak menyerapah
Seperti pernah kubilang,
Setiap dari kita mempunyai kekalahannya masing masing,
Maka, mari kita berjabat tangan
Sebab aku bukan lebih baik darimu
Mari, aku antar kau tidak dengan kesedihan
Bukan kita berpisah, sahabat,
Karena besok mungkin kita masih bisa bercanda lagi
Mencoba menertawai warna warna hidup ini
Apapun itu..
See ya’ around, friend
(catatan buat cebol, seorang sahabat)

Sunday, January 3, 1993

Suatu saat di rumah kostku

Begitu banyak kesia-siaan
Yang telah dilakukan orang2
Kebodohan yang memprihatinkan
Tak bisakah mereka melakukan hanya yang perlu2 saja?
Emosi primitive mereka yang kekanak kanakan
Mengisi udara malam ini
Menggelikan
Dan juga mengenaskan
Mereka, anak anak dari ibu keliaran
Yang bertubuh renta oleh usia
Berhentilah teman, berhenti..
Grow up.. !

Kesetimbangan (2)

Aku sedang berada dialam yang seimbang
Ada denting2 indah menggemericik
Di atas sulur sulur bulan yang hening
Udara senyap
Cuma ada galaunya suara binatang malam
Kosong ini begitu kosong
Hati yang seimbang
Berdiri anggun dalam indah ini
Aku lagi disekap damai,
Ini rahmat
Ini nikmat