Wednesday, January 20, 1993

Aku adalah sang Mustafa

Adalah subuh bagi hari hariku
Telah kutunggu tujuh hitungan lamanya untuk kapalku
Yang berjanji akan membawaku
Kembali kekandang lahirku
Dan ketika kata tak lagi mampu mewakili jiwa
Ketika ungkapan tak lagi punya arti,
Layaknya suara yang tak dapat membawa lidah
dan bibir yang telah memberinya sayap
saat itulah, saat itu kapalku berlabuh
kapal pembebasan, dari tanah asal kelahiran
yang diawaki sendiri oleh anak anak ibuku
ditanah yang terasing
(oo..betapa seringnya kau berlayar dimimpi mimpiku,
Malam malamku telah bersaksi)
Dan sekarang dia berlabuh
Disaat terjaga aku di kenyataan,
Yang adalah mimpiku yang terdalam
Saat itulah,
Dengan kesendirian juga dengan kebebasanku akan kesendirian
Aku akan menjadi elang yang terbang
Melintasi matahari
Gerbang gerbang hati terbuka
Mengalirkan kebahagiaan
Jauh melintasi laut
(kututup mata seraya berdoa
Dalam heningnya jiwa yang menangis)
Namun bagaimana mungkin kutinggalkan
Tanah pengembaraan ini dengan membawa rela yang penuh,
Dengan tidak membawa batas batas dan kesakitan?
Terlalu panjang, sakitnya hari hari, malam yang sendiri
Yang sudah aku habiskan seluruhnya di tanah ini
Terlalu banyak
Pecahan pecahan jiwa terpotong dan aku cecerkan
Dijalanan ini
Terlalu banyak, anak anak hariku yang berjalan telanjang
Berlari larian dari atas perbukitan tanah ini
Kesaksian jam demi jam yang terbakar pada malam yang sunyi,
Sudah membeku dan mengkristal dalam adonan jiwa
Ini bukanlah tentang
Pakaian yang kukenakan hari ini
Melainkan kulitku yang sebenarnya
Adalah airmata yang menetes dari sela sela tanganku

0 comments: